Internasional

Trump Tolak Mentah-Mentah Respons Iran, Selat Hormuz Masih Tegang Meski Kapal LNG Qatar Berhasil Lewat

11
×

Trump Tolak Mentah-Mentah Respons Iran, Selat Hormuz Masih Tegang Meski Kapal LNG Qatar Berhasil Lewat

Sebarkan artikel ini

Teras News — Pelayaran di Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih. Meski sebuah kapal pengangkut gas alam cair (LNG) milik QatarEnergy berhasil melintas untuk pertama kalinya sejak perang pecah, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran justru memanas setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menolak respons resmi Teheran atas proposal perdamaian Washington.

Trump melampiaskan penolakannya lewat unggahan di platform Truth Social pada Minggu (10/5/2026) waktu setempat. Ia tidak merinci isi respons Iran, tapi kalimatnya tidak menyisakan ruang tafsir.

“Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya – SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA,” tulis Trump.

Iran Sodorkan Syarat: Hentikan Perang di Semua Front dan Cabut Sanksi

Pernyataan Trump muncul setelah Iran mengirimkan jawaban resmi atas proposal AS yang sebelumnya menawarkan penghentian perang terlebih dahulu, sebelum pembicaraan tentang program nuklir Iran dibuka. Teheran rupanya punya agenda lebih luas.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa respons mereka menitikberatkan pada penghentian perang di semua front, terutama di Lebanon, serta jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Kantor berita semi-resmi Tasnim merinci empat tuntutan utama Iran: penghentian perang secara langsung di seluruh front, penghentian blokade angkatan laut AS, jaminan tidak ada lagi serangan terhadap Iran, serta pencabutan sanksi termasuk larangan penjualan minyak Iran.

The Wall Street Journal, mengutip sumber anonim, juga melaporkan Iran menawarkan pengenceran sebagian uranium yang telah diperkaya pada tingkat tinggi, sekaligus pemindahan sisa stok uranium tersebut ke negara ketiga. Langkah ini dipandang sebagai konsesi paling konkret dari Teheran dalam putaran negosiasi ini.

Pakistan, yang berperan sebagai mediator dalam konflik ini, telah meneruskan respons Iran kepada pihak AS. Seorang pejabat Pakistan mengonfirmasi langkah tersebut. Washington belum mengeluarkan komentar resmi.

Kapal LNG Qatar Jadi yang Pertama Melintas Sejak 28 Februari

Di tengah kebuntuan diplomatik itu, ada satu perkembangan di jalur laut. Kapal pengangkut LNG milik QatarEnergy bernama Al Kharaitiyat berhasil melewati Selat Hormuz dengan selamat dan berlayar menuju Pelabuhan Qasim di Pakistan, berdasarkan data perusahaan analitik pelayaran Kpler. Al Kharaitiyat tercatat sebagai kapal Qatar pertama yang membawa LNG melintas selat tersebut sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Pelayaran ini disebut mendapat persetujuan Iran sebagai gestur membangun kepercayaan dengan Pakistan dan Qatar, dua negara yang sama-sama berperan sebagai mediator. Kapal kargo berbendera Panama yang menuju Brasil pun dilaporkan berhasil melintas selat pada periode yang sama.

Kawasan Teluk memang relatif tenang dalam 48 jam terakhir. Namun drone-drone bermusuhan terdeteksi di beberapa negara Teluk pada Minggu itu juga, tanda bahwa risiko eskalasi belum hilang meski gencatan senjata sudah berjalan sekitar satu bulan.

Negosiasi Belum Menemukan Titik Temu

Selat Hormuz adalah jalur pelayaran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas di sini, menjadikannya salah satu titik paling strategis di peta energi global. Gangguan di selat ini berdampak langsung pada harga energi internasional.

Kini dua sisi negosiasi berdiri di posisi yang jauh berbeda. AS ingin penghentian perang dulu sebelum isu nuklir dibahas. Iran meminta paket komprehensif yang mencakup pencabutan sanksi dan jaminan keamanan sebelum bersedia berkompromi lebih jauh soal program nuklirnya. Selama tawaran dan tuntutan kedua pihak belum bertemu, meja perundingan belum akan terbuka.

Penulis: Rizky Pratama
Editor: Surya Dharma