Internasional

Harga Asam Sulfat Melonjak, Indonesia Terancam Krisis Pasokan Pupuk Akibat Blokade Selat Hormuz

14
×

Harga Asam Sulfat Melonjak, Indonesia Terancam Krisis Pasokan Pupuk Akibat Blokade Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini

Teras News — Indonesia masuk daftar negara yang paling rentan terdampak krisis asam sulfat global, setelah China memutuskan membatasi ekspor komoditas itu mulai Mei 2026. Gangguan di Selat Hormuz, jalur laut vital di kawasan Teluk Persia, memicu lonjakan harga dan memperparah kelangkaan bahan baku yang dipakai luas di sektor pertanian dan pertambangan.

Asam sulfat bukan komoditas yang akrab di telinga petani biasa. Namun tanpa bahan kimia ini, produksi pupuk bisa terhenti. Bahan tersebut juga digunakan untuk melarutkan tembaga dan logam lainnya dalam proses pertambangan.

China Batasi Ekspor, Indonesia dan Chile Paling Terpukul

Sarah Marlow, pakar pasar pupuk dari Argus, menyebut Indonesia dan Chile sebagai dua negara yang kemungkinan besar merasakan dampak terberat dari kebijakan Beijing. “Chile dan Indonesia kemungkinan menjadi negara yang paling terdampak oleh pembatasan ekspor asam sulfat dari China,” kata Marlow kepada Wall Street Journal.

China adalah produsen asam sulfat terbesar di dunia. Ketika negara itu mengerem ekspor, pasar global langsung merespons. Harga naik tajam, pasokan menipis.

Freda Gordon, kepala Acuity Commodities dan pakar pasar komoditas, menjelaskan akar masalahnya. Menurutnya, ancaman terhadap pasar pupuk mendorong China untuk membatasi ekspor, dan langkah itu “telah menyebabkan harga naik dan semakin memperburuk kekurangan asam sulfat.”

Konflik Timur Tengah Putus Jalur Pasokan dari Kilang Teluk Persia

Sebagian besar pasokan asam sulfat global berasal dari kilang minyak di kawasan Teluk Persia, karena asam ini merupakan produk sampingan dari proses pengolahan minyak. Ketika kilang-kilang itu terganggu, rantai pasok ikut terkoyak.

Situasi memburuk sejak 28 Februari lalu, ketika Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap target-target di Iran. Eskalasi militer itu nyaris melumpuhkan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur yang selama ini menjadi arteri utama distribusi minyak dan gas dunia. Akibatnya, harga bahan bakar merangkak naik di banyak negara, dan harga asam sulfat di kawasan Timur Tengah ikut terkerek.

Pada April lalu, Bloomberg melaporkan bahwa China tengah mempertimbangkan larangan ekspor asam sulfat mulai Mei 2026, tepat karena gangguan pasokan yang dipicu konflik di kawasan tersebut.

Dampak ke Sektor Pertanian Indonesia

Bagi Indonesia, ketergantungan pada impor asam sulfat untuk industri pupuk bukan hal baru. Ketika pasokan global terguncang dan eksportir utama seperti China menutup keran, harga pupuk berpotensi melonjak di tingkat petani. Situasi ini bisa menambah beban bagi petani yang sudah bergulat dengan biaya produksi yang tinggi.

Krisis pasokan yang bermula dari konflik geopolitik di Timur Tengah kini bergerak jauh melampaui kawasan asalnya, menyentuh lahan pertanian dan tambang di belahan dunia lain. Seberapa lama pembatasan ekspor China akan berlangsung, dan apakah Indonesia punya cadangan atau sumber alternatif yang cukup, masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab.

Penulis: Arif Budiman
Editor: Surya Dharma