Internasional

Di KTT ASEAN ke-48 Cebu, Prabowo Desak Penyelesaian Krisis Myanmar Lewat Dialog

11
×

Di KTT ASEAN ke-48 Cebu, Prabowo Desak Penyelesaian Krisis Myanmar Lewat Dialog

Sebarkan artikel ini

Teras News — Presiden Prabowo Subianto mendorong penyelesaian konflik kawasan Asia Tenggara melalui jalur diplomasi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN yang berlangsung di Cebu, Filipina. Krisis Myanmar dan ketegangan perbatasan antaranggota menjadi dua isu paling berat yang dibahas para pemimpin blok regional itu.

“Para pemimpin membahas situasi Myanmar dan pentingnya penyelesaian konflik melalui dialog dan negosiasi,” kata Menteri Luar Negeri Sugiono dalam keterangan pers usai pertemuan.

Myanmar Kembali Dominasi Agenda ASEAN

Myanmar sudah bertahun-tahun menjadi titik panas di dalam tubuh ASEAN sejak kudeta militer 2021 menggulingkan pemerintahan sipil terpilih. Upaya mediasi melalui Five-Point Consensus (Konsensus Lima Poin) yang disepakati para pemimpin ASEAN sebelumnya tak kunjung membuahkan hasil nyata di lapangan. Dalam forum di Cebu ini, tekanan untuk mencari jalan keluar nyata kembali menguat.

Prabowo mengambil posisi tegas: dialog dan negosiasi adalah satu-satunya jalan yang layak ditempuh. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip non-intervensi yang selama ini dipegang ASEAN, sekaligus menjawab desakan komunitas internasional agar blok ini tidak diam menghadapi krisis kemanusiaan yang terus memburuk di Myanmar.

Konflik Perbatasan Ikut Dibahas dalam Sesi Retreat

Selain Myanmar, konflik perbatasan antaranggota juga masuk agenda dalam sesi retreat khusus para pemimpin ASEAN. Sesi retreat adalah forum tertutup tanpa delegasi penuh, dirancang agar para kepala negara bisa berbicara lebih blak-blakan tanpa tekanan protokol diplomatik formal.

Kawasan Asia Tenggara menyimpan sejumlah sengketa wilayah yang belum tuntas, mulai dari klaim tumpang tindih di Laut China Selatan yang melibatkan Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei, hingga berbagai ketegangan darat di daratan Asia Tenggara. Prabowo, yang hadir sebagai pemimpin negara dengan populasi terbesar di ASEAN, memanfaatkan forum ini untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai jangkar stabilitas kawasan.

Peran Indonesia sebagai Penyeimbang

Indonesia secara historis kerap mengambil peran sebagai fasilitator dalam sengketa kawasan. Posisi geografis dan bobot diplomatik Indonesia membuat suara Jakarta selalu diperhitungkan dalam setiap perundingan ASEAN.

Dalam KTT kali ini, Prabowo hadir tidak hanya sebagai kepala negara anggota, tetapi juga membawa agenda rekonsiliasi yang lebih luas. Sugiono memastikan bahwa delegasi Indonesia aktif mendorong mekanisme dialog yang lebih konkret, bukan sekadar pernyataan politik.

KTT ASEAN ke-48 di Cebu menjadi ujian seberapa jauh blok yang beranggotakan sepuluh negara ini mampu bergerak melampaui konsensus di atas kertas menuju tindakan nyata, khususnya dalam menangani Myanmar yang situasinya kian kompleks setelah konflik bersenjata antara junta militer dan berbagai kelompok perlawanan makin meluas dalam dua tahun terakhir.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Arif Budiman