Teras News — Setiap musim haji tiba, jutaan mata umat Islam di seluruh dunia tertuju pada satu titik: Kakbah di Masjidil Haram, Makkah. Bangunan kubus berbalut kain hitam berbordir emas itu menjadi pusat thawaf dan kiblat salat bagi lebih dari satu miliar Muslim. Namun kain penutup Kakbah yang kini dikenal sebagai kiswah tidak selalu berwarna hitam.
Kiswah adalah sebutan untuk kain yang menyelimuti seluruh dinding luar Kakbah. Sejarah penggunaannya jauh lebih panjang dari yang banyak orang bayangkan, merentang ribuan tahun ke belakang jauh sebelum Islam lahir.
Kiswah Pertama: Jauh Sebelum Era Islam
Tradisi menutup Kakbah dengan kain diyakini sudah berlangsung sejak zaman pra-Islam. Beberapa riwayat menyebut Raja Tubba’ dari Yaman sebagai orang pertama yang memakaikan kain pada Kakbah. Ketika Islam datang, tradisi ini diteruskan, bahkan disempurnakan.
Baca Juga:
Pada masa awal Islam, kiswah tidak selalu berwarna hitam. Warna yang pernah digunakan beragam, mulai dari putih, merah, hingga hijau, tergantung pada penguasa yang menanggung biaya pembuatannya. Setiap khalifah atau penguasa muslim yang berkuasa kerap menjadikan pengadaan kiswah sebagai bentuk penghormatan dan pengabdian kepada Baitullah.
Warna Hitam Mulai Mendominasi di Era Abbasiyah
Warna hitam mulai menjadi pilihan utama pada era Kekhalifahan Abbasiyah, sekitar abad ke-8 Masehi. Sejak saat itu, hitam bertahan sebagai warna kiswah hingga hari ini. Pilihan warna ini kemudian dipertahankan oleh penguasa-penguasa berikutnya karena dianggap paling agung dan berwibawa.
Bordir kaligrafi berwarna emas dan perak yang menghiasi permukaan kiswah berisi ayat-ayat Al-Qur’an. Tulisan-tulisan itu dikerjakan oleh para pengrajin ahli dengan teknik yang sangat teliti. Selembar kiswah lengkap membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diselesaikan.
Produksi Kiswah Kini di Tangan Arab Saudi
Tanggung jawab pengadaan kiswah beralih ke berbagai tangan sepanjang sejarah, dari penguasa Yaman, Mesir, hingga Ottoman. Kini, produksi kiswah sepenuhnya ditangani oleh Pemerintah Arab Saudi melalui fasilitas khusus yang didirikan di Makkah.
Kiswah diganti setiap tahun, tepatnya pada 9 Zulhijah, hari wukuf di Arafah yang menjadi puncak ibadah haji. Kiswah lama yang dilepas kemudian dipotong-potong dan diberikan kepada tamu-tamu kehormatan serta lembaga-lembaga tertentu sebagai hadiah bernilai tinggi.
Musim haji tahun ini kembali membawa jutaan jamaah dari penjuru dunia ke Makkah, menjadikan momen pergantian kiswah sebagai salah satu peristiwa yang paling dinantikan di antara rangkaian ibadah tahunan umat Islam.
Editor: Ratna Dewi