Teras News — Kiswah, kain penutup Kakbah yang menjadi salah satu simbol paling ikonik dalam tradisi Islam, memiliki sejarah panjang yang ditelusuri jauh sebelum masa kenabian. Catatan sejarah menyebut bahwa orang pertama yang memasang penutup pada bangunan suci di Makkah itu berasal dari Yaman.
Nama yang paling banyak disebut dalam riwayat sejarah adalah Tubba As’ad al-Himyari, seorang raja dari Kerajaan Himyar di Yaman. Ia diyakini sebagai tokoh pertama yang secara sengaja menyelubungi Kakbah dengan kain sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian bangunan tersebut.
Raja Yaman yang Pertama Menutup Kakbah dengan Kain
Tubba As’ad al-Himyari hidup jauh sebelum Islam datang. Dalam perjalanannya menuju Makkah, ia disebut menaruh penghormatan besar terhadap Kakbah. Rasa hormat itulah yang mendorongnya menutup bangunan itu dengan kain, menjadikannya tradisi yang kemudian terus berlanjut hingga berabad-abad sesudahnya.
Baca Juga:
Kain yang digunakan pada masa awal itu tentu sangat berbeda dari kiswah yang dikenal sekarang. Kiswah modern terbuat dari sutra hitam dengan sulaman benang emas dan perak, menampilkan ayat-ayat Al-Quran yang dibordir dengan sangat halus. Proses pembuatannya memerlukan ratusan pengrajin terlatih dan berlangsung sepanjang tahun.
Tradisi yang Berlanjut Melewati Zaman
Setelah masa Tubba As’ad, tradisi menutup Kakbah diteruskan oleh berbagai penguasa Arab. Pada era Islam, Nabi Muhammad SAW juga pernah menutup Kakbah, dan kebiasaan itu dilanjutkan oleh para khalifah sesudahnya. Setiap tahun, kiswah lama dilepas dan diganti dengan yang baru, tepat pada tanggal 9 Dzulhijjah saat jamaah haji berada di Arafah.
Saat ini, tanggung jawab pembuatan dan pemasangan kiswah berada di tangan Pemerintah Arab Saudi melalui Kompleks Pabrik Kiswah Kakbah Raja Abdul Aziz yang berlokasi di Makkah. Setiap tahun, kiswah baru dengan panjang kain mencapai puluhan meter dipasang menjelang musim haji.
Kain kiswah yang dilepas setiap tahun tidak dibuang begitu saja. Potongan-potongannya dibagikan kepada sejumlah tamu negara dan tokoh penting sebagai hadiah kehormatan, menjadikannya salah satu artefak keagamaan yang paling bernilai di dunia Islam.
Kisah Tubba As’ad al-Himyari dari Yaman tetap hidup dalam catatan sejarah sebagai awal mula tradisi yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual perawatan Kakbah setiap tahunnya.
Editor: Ratna Dewi