Berita

Suku Bunga BI Naik ke 5,50%, Insight Investments Rekomendasikan Rebalancing ke Obligasi

53
×

Suku Bunga BI Naik ke 5,50%, Insight Investments Rekomendasikan Rebalancing ke Obligasi

Sebarkan artikel ini

Teras News — Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada Selasa (9/6). Keputusan itu disambut positif oleh Direktur Insight Investments, Camar Remoa.

Camar menilai kebijakan BI tersebut sudah tepat, khususnya mengingat tekanan nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh Rp 18.200 per Dolar AS. Kenaikan suku bunga acuan menjadi salah satu instrumen untuk meredam pelemahan mata uang domestik di tengah volatilitas pasar global.

Tiga Sektor Diuntungkan di Tengah Suku Bunga Tinggi

Tidak semua sektor terdampak negatif. Menurut Camar, tren suku bunga tinggi justru menguntungkan sejumlah sektor, yakni perbankan, konsumer, dan komoditas. Sektor perbankan diuntungkan karena margin bunga cenderung melebar, konsumer terjaga seiring daya beli yang relatif stabil, sementara emiten berorientasi ekspor di sektor komoditas mendapat keuntungan tambahan dari pelemahan Rupiah itu sendiri.

“Sejumlah sektor akan cukup diuntungkan seperti perbankan, konsumer seiring dengan terjaganya daya beli serta sektor komoditas utamanya emiten berorientasi ekspor,” kata Camar dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, Selasa (9/6).

Rebalancing Portofolio ke Obligasi dengan Underlying Lebih Baik

Di sisi manajemen risiko, Camar menyoroti efek koreksi harga obligasi yang lazim terjadi ketika suku bunga naik. Harga obligasi dan suku bunga bergerak berlawanan arah: saat suku bunga naik, harga obligasi di pasar sekunder cenderung turun.

Untuk meminimalkan dampak koreksi itu, Camar merekomendasikan manajer investasi melakukan rebalancing portofolio. Portofolio perlu diarahkan ke obligasi dengan underlying yang menawarkan tingkat suku bunga lebih kompetitif, sehingga potensi kerugian akibat fluktuasi harga bisa ditekan.

Rebalancing portofolio adalah proses penyesuaian komposisi aset investasi agar tetap selaras dengan target risiko dan imbal hasil yang ditetapkan sejak awal. Langkah ini relevan ketika kondisi makroekonomi berubah signifikan, seperti siklus kenaikan suku bunga.

Pasar keuangan domestik kini menunggu respons lanjutan dari pelaku pasar terhadap kebijakan BI, termasuk pergerakan yield obligasi pemerintah dan reaksi indeks saham di bursa dalam beberapa sesi ke depan.

Penulis: Indah Lestari
Editor: Surya Dharma