Teras News — Indonesia membidik kapasitas pembangkit energi terbarukan sebesar 70 gigawatt pada 2040 — target yang disampaikan Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno di hadapan para pemangku kepentingan global dalam South East Asia Climate Forum, bagian dari London Climate Action Week.
Eddy, yang juga duduk sebagai Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PAN, membuka paparannya dengan catatan yang ia akui terasa ironis. Dua dekade lebih lalu, saat masih berkarier di sektor perbankan, ia menghadiri sebuah konferensi yang menyebut Indonesia sebagai negara dengan potensi energi terbarukan terbesar di Asia.
“Yang menarik sekaligus menjadi tantangan bagi kita adalah, 25 tahun kemudian Indonesia masih disebut sebagai negara dengan potensi energi terbarukan terbesar di Asia. Artinya, potensi yang luar biasa tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal,” kata Eddy di forum tersebut.
Baca Juga:
Jika target 70 gigawatt tercapai, bauran energi terbarukan nasional akan melonjak dari kisaran 15 hingga 16 persen saat ini menjadi lebih dari 35 persen. Angka itu menjadi bagian dari janji besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang memasang target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2028, sekaligus berkomitmen mencapai Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat.
“Kami berkomitmen memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus melakukan dekarbonisasi ekonomi untuk mencapai target Net Zero Emissions pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat,” jelas Eddy.
Di sisi regulasi, Indonesia sedang menggarap dua produk hukum sekaligus. Pembahasan Undang-Undang Energi Terbarukan telah memasuki tahap akhir. DPR RI juga tengah memproses Rancangan Undang-Undang Aksi Iklim yang, jika disahkan, akan menjadi regulasi pertama Indonesia yang mengatur isu perubahan iklim secara khusus dan komprehensif. Pemerintah dan DPR turut merencanakan revisi undang-undang terkait untuk menyelaraskan kerangka hukum dengan agenda transisi energi.
Eddy menegaskan bahwa dekarbonisasi bukan semata agenda lingkungan, melainkan strategi ekonomi nasional. “Kami memahami bahwa masa depan pertumbuhan ekonomi yang kuat harus dibangun di atas fondasi energi yang bersih, berkelanjutan, dan berdaya saing,” katanya.
Berita Terkait
Editor: Ratna Dewi