Teras News — Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur mendorong warga untuk mengunjungi destinasi Air Panas Asin Pemapak di Desa Biatan Bapinang, Kabupaten Berau, sebagai alternatif wisata air panas tanpa harus keluar daerah. Destinasi ini unik karena sumber panasnya bukan dari aktivitas vulkanik, melainkan dari resapan batuan karst.
“Orang Kaltim tidak perlu lagi pergi ke luar daerah untuk berwisata air panas, cukup berkunjung ke Desa Biatan Bapinang saja,” kata Kepala Dispar Kaltim Ririn Sari Dewi di Samarinda, Rabu.
120 Kilometer dari Tanjung Redeb, Air Panas Tanpa Gunung Berapi
Lokasi pemandian ini berjarak sekitar 120 kilometer dari Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau. Yang membuat destinasi ini berbeda dari kebanyakan pemandian air panas di Indonesia adalah asal-usul sumber panasnya. Tidak ada gunung berapi di kawasan itu.
Baca Juga:
Ririn menjelaskan mekanisme alami di balik fenomena tersebut. “Air panas ini bukan termal atau vulkanik, melainkan hasil resapan dari batu karst yang menyerap panas, kemudian airnya mengalir dan bermuara di sini,” jelasnya.
Karst adalah bentang alam yang terbentuk dari batuan gamping yang mudah larut, umumnya dicirikan oleh gua, sungai bawah tanah, dan mata air. Kemunculan air panas dari batuan jenis ini tergolong fenomena langka.
Sekretaris Kampung Biatan Bapinang, Septi Eunike, membenarkan keistimewaan itu. “Tidak ada gunung berapi di sini, namun muncul karst yang menghasilkan air panas,” ujar Septi.
Dikelola BUMDes Sejak Tiga Tahun Lalu, Pengunjung Harian Capai 300 Orang
Destinasi ini sebenarnya sudah dibuka sejak 2004. Namun pengelolaan yang terstruktur baru berjalan tiga tahun terakhir, setelah Pemerintah Desa Biatan Bapinang resmi menyerahkan izin pengelolaan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bersama Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata).
Hasilnya terlihat dari angka kunjungan. Pada hari biasa, rata-rata 200 hingga 300 wisatawan datang ke kawasan ini. Lonjakan terjadi tiap akhir pekan.
“Antusiasme masyarakat untuk berlibur terus memuncak pada setiap akhir pekan dengan lonjakan pengunjung yang bisa mencapai angka maksimal 600 orang,” terang Septi.
Para pengelola sudah menyiapkan berbagai fasilitas: kolam rendaman umum, penyewaan tenda, hingga area khusus bagi pengunjung yang menginginkan suasana lebih privat. “Kami juga menyediakan wadah untuk pengunjung VIP yang ingin menikmati suasana lebih privat,” tambah Septi.
Ririn: Pelibatan Warga Lokal Jadi Kunci
Ririn Sari Dewi memberi perhatian khusus pada model pengelolaan berbasis komunitas yang diterapkan di Biatan Bapinang. Menurutnya, keterlibatan warga setempat adalah faktor penentu agar potensi alam benar-benar mendongkrak ekonomi desa.
“Pengelolaan yang melibatkan masyarakat lokal menjadi kunci agar sumber daya yang ada sukses dimanfaatkan untuk menggerakkan roda ekonomi desa,” ungkap Ririn.
Wisatawan yang datang tercatat berasal dari berbagai daerah di wilayah Kalimantan Timur. Dengan tren kunjungan yang terus naik, pengelola desa kini menghadapi tantangan mempertahankan kualitas layanan sekaligus menjaga kelestarian sumber air panas karst yang menjadi daya tarik utamanya.
Editor: Arif Budiman