Teras News — Lima orang terkaya di Indonesia butuh 603 tahun untuk menghabiskan kekayaan mereka, bahkan jika masing-masing membelanjakan Rp2 miliar setiap hari. Angka itu bukan perkiraan sembarangan, melainkan hasil hitungan Center of Economic and Law Studies (CELIOS) dalam laporan Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026, yang dipublikasikan Selasa (28/4/2026).
Di sisi yang berlawanan, hampir seluruh nasabah bank di Indonesia, sekitar 98,91 persen dari total nasabah, menyimpan uang dengan saldo di bawah Rp100 juta. Sementara simpanan jumbo di atas Rp5 miliar kini mendominasi 56,45 persen dari total dana yang tersimpan di perbankan nasional.
Kekayaan 50 Orang Terkaya Hampir Dua Kali Lipat dalam 6 Tahun
Selama periode 2019 hingga 2025, total kekayaan 50 orang terkaya Indonesia melonjak dari sekitar Rp2.508 triliun menjadi Rp4.651 triliun pada 2026. Jumlah itu setara seperlima Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Median kekayaan 50 orang super kaya tersebut kini mencapai Rp52,3 miliar per orang, berbanding terbalik dengan median kekayaan penduduk umum yang hanya Rp84,35 juta.
Baca Juga:
Proyeksi ke depan tidak lebih menyenangkan. Pada 2050, median kekayaan kelompok super kaya diperkirakan melonjak 106 persen menjadi Rp107,7 triliun. Kekayaan median penduduk biasa? Hanya naik 20 persen, menjadi Rp101 juta.
Lebih dari Separuh Kekayaan Orang Kaya Berasal dari Eksploitasi Sumber Daya Alam
Dari mana datangnya kekayaan sebesar itu? CELIOS mencatat bahwa lebih dari separuh harta kelompok super kaya Indonesia bersumber dari sektor ekstraktif, yakni eksploitasi sumber daya alam seperti batu bara, sawit, dan nikel. Pada 2019 hingga 2022, kontribusi sektor energi dan ekstraktif terhadap total kekayaan berada di kisaran 39 hingga 46 persen. Angka itu melonjak tajam ke 57,8 persen pada 2026.
CELIOS mengingatkan ada harga yang harus dibayar dari model bisnis semacam itu. “Sektor ekonomi berbasis eksploitasi sumber daya alam ini menghasilkan keuntungan besar bagi segelintir kelompok super kaya. Sementara itu, biaya tambahan akibat kerusakan lingkungan justru ditanggung oleh masyarakat,” tulis laporan yang disusun oleh peneliti CELIOS, Media Wahyudi Askar beserta tim.
Tabungan Orang Kaya Tumbuh Lebih Cepat dari Masyarakat Kecil
Ketimpangan itu tidak hanya terlihat di angka kekayaan bersih. CELIOS juga menemukan bahwa pertumbuhan tabungan kelompok kaya jauh melampaui masyarakat berpenghasilan rendah. Simpanan di atas Rp5 miliar terus menggembung, mendominasi lebih dari separuh total dana di perbankan, padahal pemiliknya hanyalah segelintir dari ratusan juta nasabah yang ada.
Laporan CELIOS menyentil narasi pertumbuhan ekonomi yang selama ini kerap menjadi kebanggaan. “Ekonomi bisa saja tumbuh di atas 5 persen, tapi kalau ekonomi hanya dinikmati segelintir orang saja, namanya bukan pertumbuhan, tapi kemunduran ekonomi yang dipoles angka,” demikian pernyataan dalam laporan tersebut.
Laporan Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026 dari CELIOS menjadi cermin betapa lebarnya jurang antara kelompok super kaya dan mayoritas penduduk. Dengan kesenjangan yang diproyeksikan terus melebar hingga pertengahan abad ini, tekanan untuk mendorong kebijakan redistribusi yang lebih serius kemungkinan akan semakin menguat di ruang-ruang debat kebijakan nasional.
Editor: Arif Budiman

