Teras News — Lima pusaka bersejarah Ponorogo diarak dari makam Batoro Katong menuju Paseban Alun-Alun pada Senin (15/6/2026), disaksikan ribuan warga yang memadati sepanjang rute kirab. Tahun ini, iring-iringan Kirab Pusaka Lintasan Sejarah dalam rangkaian Grebeg Suro 2026 tampil lebih panjang karena 42 satuan pendidikan turut serta membawa aneka ragam mobil hias.
Prosesi dimulai di area makam Batoro Katong. Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita menyerahkan satu per satu pusaka kepada bregada (regu pasukan) yang bertugas mengirabnya dengan berjalan kaki: Tombak Kyai Tunggul Nogo, Angkin Cindhe Puspito, Songsong Kyai Tunggul Wulung, Tombak Kyai Pamong Among Geni, dan Tombak Kyai Bromo Geni.
Kirab ini menapak tilas perpindahan pusat pemerintahan Ponorogo dari Kota Lama ke Kota Tengah. Lisdyarita, yang akrab disapa Bunda Lis, bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) mengikuti gerak bregada dengan naik kereta kuda. Di belakang mereka, Sekretaris Daerah Agus Sugiarto, para kepala perangkat daerah, seluruh camat, serta kepala bagian di lingkungan Sekretariat Daerah juga menunggang kereta kuda masing-masing bersama pasangannya.
Baca Juga:
Warga Berebut Bingkisan dari Kereta Kuda Pejabat
Antusiasme warga terasa di setiap sudut rute. Tangan-tangan terulur dari pinggir jalan, menyambut bingkisan jajan yang dibagikan para penumpang kereta kuda. “Bagi bungkusannya Bunda, bagi bungkusannya Bunda,” pinta sejumlah warga saat rombongan Lisdyarita melintas.
Bunda Lis menegaskan bahwa kirab ini bukan sekadar arak-arakan. “Kirab Pusaka menjadi penanda bahwa sejarah bukan untuk dikenang semata, melainkan untuk pijakan dalam melangkah menuju masa depan,” ujarnya. Ia juga menyebut merasakan nilai kebersamaan yang terus hidup dari generasi ke generasi di tengah arus modernisasi.
Jamasan dan Buceng Purak Tutup Rangkaian di Alun-Alun
Usai kirab, kerumunan warga tidak langsung bubar di kawasan Alun-Alun Ponorogo. Mereka menyaksikan dan ikut berebut dalam dua tradisi lanjutan: jamasan pusaka dan buceng purak.
Jamasan adalah prosesi pencucian pusaka secara ritual. Warga berebut sisa air jamasan yang dipercaya membawa berkah. Buceng purak adalah tradisi berebut hasil bumi berupa aneka buah-buahan dan olahan pertanian yang ditumpuk dalam bentuk gunungan. Di ujung susunan buceng terdapat ingkung, ayam yang telah dimasak utuh dan siap santap.
Rangkaian Kirab Pusaka, jamasan, dan buceng purak pada Senin (15/6/2026) menandai datangnya malam 1 Muharam. Malam itu berlanjut dengan laku tirakatan (meditasi dan doa semalam suntuk) sekaligus penutupan Festival Nasional Reog Ponorogo yang juga masuk dalam rangkaian Grebeg Suro 2026.
Editor: Surya Dharma