Berita

Dexlite dan Pertamina Dex Naik 60 Persen, Apindo: Biaya Distribusi Industri Langsung Tertekan

11
×

Dexlite dan Pertamina Dex Naik 60 Persen, Apindo: Biaya Distribusi Industri Langsung Tertekan

Sebarkan artikel ini

Teras News — Harga BBM diesel nonsubsidi melonjak lebih dari 60 persen sejak Sabtu (19/4), memukul sektor logistik dan manufaktur yang selama ini bergantung pada jenis bahan bakar tersebut. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperingatkan kenaikan ini berpotensi langsung mengerek biaya distribusi dan menekan margin usaha.

Dexlite dan Pertamina Dex masing-masing naik sekitar Rp9.400 per liter. Pertamax Turbo juga naik, meski lebih rendah, sekitar Rp6.300 per liter. Penyesuaian harga ini berlaku efektif mulai Sabtu (18/4) oleh Pertamina.

Sektor Logistik dan Transportasi Barang Paling Terdampak

Wakil Ketua Umum Apindo Sanny Iskandar menyoroti dampak langsung ke rantai distribusi nasional. “Yang menjadi perhatian adalah kenaikan pada jenis BBM berbasis diesel seperti Dexlite dan Pertamina Dex, yang juga digunakan oleh sektor logistik, transportasi barang, serta sebagian aktivitas industri,” kata Sanny saat dihubungi di Jakarta, Senin (21/4).

Dalam struktur biaya operasional perusahaan, komponen energi — terutama untuk logistik — menempati porsi besar. Kenaikan harga diesel, kata Sanny, secara langsung menambah ongkos pengiriman barang. Industri manufaktur, distribusi, dan komoditas yang sangat bergantung pada mobilitas barang menjadi kelompok yang paling rentan.

Pengusaha Pilih Tahan Gerak, Pantau Situasi

Respons dunia usaha sejauh ini cenderung menunggu. “Pelaku usaha cenderung akan mengambil pendekatan yang wait and see, sambil menjaga efisiensi operasional dan stabilitas arus kas,” ujar Sanny.

Bukan tanpa alasan. Tekanan yang dirasakan pengusaha bukan hanya dari BBM domestik. Sanny merinci bahwa gejolak geopolitik global turut mendorong kenaikan ongkos logistik internasional, biaya asuransi pelayaran, gangguan pasokan bahan baku, dan tekanan nilai tukar — semuanya menghantam bersamaan.

“Penyesuaian BBM nonsubsidi ini sebetulnya bekerja sebagai amplifier terhadap tekanan yang sebelumnya sudah berlangsung. Dengan kata lain, dunia usaha tidak membaca ini sebagai isu tunggal, tetapi sebagai bagian dari akumulasi tekanan biaya pada awal 2026,” jelas Sanny.

Harga Minyak Dunia Turun, Tapi Harga BBM Domestik Naik

Ada paradoks yang kini dihadapi pelaku usaha. Harga minyak mentah di pasar global sempat mengalami koreksi turun. Namun bersamaan dengan itu, risiko geopolitik kembali meningkat sehingga harga BBM dalam negeri justru disesuaikan naik.

Sanny menyebut kondisi ini sebagai lag effect sekaligus cermin tingginya volatilitas dalam transmisi harga energi. Selisih waktu antara pergerakan harga global dan penyesuaian domestik itu yang pada akhirnya harus ditanggung pengusaha dalam jangka pendek.

Apindo berharap stabilitas geopolitik global dapat segera membaik agar tren harga energi lebih bisa diprediksi. Kepastian itu, menurut Sanny, menjadi syarat agar struktur biaya dunia usaha punya ruang untuk pulih.

Dilansir dari laporan Antara.

Penulis: Indah Lestari
Editor: Surya Dharma