Teras News — Perusahaan Israel bernama BlackCore disebut sebagai dalang kampanye propaganda digital yang menyasar politikus pro-Palestina di Eropa, Afrika, dan Amerika Serikat. Lembaga pengawas campur tangan digital Prancis, Viginum, yang merilis temuan tersebut, mengaitkan BlackCore dengan jaringan pengaruh daring yang beroperasi lintas benua.
Viginum Identifikasi BlackCore sebagai Pelaku Operasi Pengaruh Digital
Viginum, lembaga pemerintah Prancis yang khusus memantau operasi manipulasi informasi dari luar negeri, menarik benang merah antara BlackCore dan serangkaian kampanye koordinasi daring yang disebutnya sebagai “Front Kedelapan Israel”. Istilah ini merujuk pada dimensi perang informasi digital, sebagai lawan dari medan perang fisik.
Operasi semacam ini umumnya bekerja dengan menyebarkan narasi tertentu secara masif melalui akun-akun media sosial, situs web, dan kanal digital lain yang tampak independen namun sesungguhnya terkoordinasi. Sasarannya adalah tokoh-tokoh politik yang secara terbuka mendukung Palestina atau mengkritik kebijakan Israel.
Baca Juga:
Jangkauan Kampanye Meliputi Tiga Benua
Wilayah sasaran kampanye ini sangat luas. Viginum mencatat operasi tersebut menjangkau negara-negara di Eropa, sejumlah negara Afrika, serta Amerika Serikat. Luasnya jangkauan ini menunjukkan skala operasi yang tidak kecil dan membutuhkan sumber daya serta infrastruktur digital yang signifikan.
Prancis sendiri menjadi salah satu negara yang secara aktif membangun sistem deteksi terhadap campur tangan asing di ruang digital, terutama sejak kekhawatiran soal interferensi pemilu menguat di banyak negara demokrasi Barat pascatahun 2016.
BlackCore dan Pertanyaan yang Belum Terjawab
Hingga laporan Viginum dipublikasikan, belum ada pernyataan resmi dari BlackCore maupun pemerintah Israel yang merespons temuan tersebut secara langsung. Posisi resmi kedua pihak terkait tuduhan ini belum dapat dikonfirmasi.
Kasus BlackCore bukan yang pertama melibatkan perusahaan swasta di industri “jasa pengaruh” digital. Sejumlah firma serupa dari berbagai negara sebelumnya juga pernah terungkap menjalankan operasi manipulasi informasi berskala internasional, dengan klien yang beragam mulai dari pemerintah hingga kelompok kepentingan tertentu.
Temuan Viginum ini berpotensi memicu tekanan diplomatik lebih lanjut, sekaligus memperkuat desakan sejumlah negara Eropa agar platform media sosial memperketat pengawasan terhadap kampanye koordinasi tidak autentik yang menyasar proses politik di negara-negara demokrasi.
Editor: Arif Budiman