Teras News — Moskow, Jumat — Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat: penuhi semua komitmen yang sudah disampaikan dalam perundingan nuklir, atau jangan berharap kesepakatan akan terwujud.
Peringatan itu ia tulis langsung di platform X. “Komitmen yang dibuat harus ditepati. Tidak ada syarat, tidak ada alasan, dan tidak ada pengecualian. Untuk mencapai kesepakatan yang sudah di depan mata, tidak ada jalan lain. Anda akan menuai apa yang Anda tanam,” tulis Ghalibaf.
Trump Bantah Isi Dokumen yang Beredar di Iran
Pernyataan keras Ghalibaf muncul sebagai respons atas ucapan Presiden AS Donald Trump. Pada hari yang sama, Trump menyatakan bahwa ketentuan kesepakatan yang dipublikasikan media Iran tidak mencerminkan isi sebenarnya dari kesepakatan yang telah dicapai kedua pihak.
Baca Juga:
Sebelum Trump angkat bicara, kantor berita Mehr News Agency merilis laporan yang mengutip rancangan memorandum penyelesaian konflik Teheran-Washington. Dokumen itu menyebut Iran menolak memulai perundingan nuklir sampai AS memenuhi tiga syarat utama: membebaskan setengah dari dana Iran yang diblokir, menangguhkan sanksi terhadap ekspor minyak Iran, dan mencabut blokade maritim yang diberlakukan terhadap negara itu.
Perundingan Berlangsung di Tengah Ketegangan yang Memburuk
Proses negosiasi antara Iran dan AS berjalan di tengah eskalasi ketegangan yang terus memanas dalam beberapa bulan terakhir. Kedua pihak tengah mencari formula untuk keluar dari kebuntuan yang sudah berlangsung lama seputar program nuklir Tehran.
Perselisihan ini berakar dari penarikan sepihak AS dari Perjanjian Nuklir Iran (JCPOA) pada 2018, yang diikuti dengan penerapan kembali sanksi ekonomi berat terhadap Tehran. Sejak saat itu, Iran secara bertahap meningkatkan kapasitas pengayaan uraniumnya, memicu kekhawatiran komunitas internasional bahwa program nuklir Tehran semakin mendekati ambang kemampuan membuat senjata.
Laporan yang dipublikasikan Antara menyebutkan, sebelumnya Menteri Luar Negeri Iran juga menyatakan bahwa kesepakatan dengan AS hampir tercapai. Klaim itu kini kontras dengan sikap keras parlemen Iran yang meminta Washington membuktikan keseriusannya lebih dulu.
Dengan kedua pihak saling bersilang klaim soal isi dokumen, pertanyaan besar kini menggantung: apakah ada kesepakatan yang benar-benar sudah terbentuk, atau perundingan masih jauh dari titik akhir.
Editor: Surya Dharma