Berita

Inflasi April 2,4%, Menkeu Purbaya Tepis Kekhawatiran Hiperinflasi: ‘Pengamat Harus Belajar Lagi’

18
×

Inflasi April 2,4%, Menkeu Purbaya Tepis Kekhawatiran Hiperinflasi: ‘Pengamat Harus Belajar Lagi’

Sebarkan artikel ini

Teras News — Inflasi Indonesia pada April 2026 tercatat hanya 2,4%, jauh di bawah skenario terburuk yang pernah dilontarkan sejumlah pengamat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut angka itu sebagai “sempurna” dan langsung menepis prediksi-prediksi pesimistis yang sebelumnya beredar.

“Ada yang bilang (RI) menuju hiperinflasi, (inflasi) bisa 4%-5%, nakut-nakutin ternyata inflasinya pada April ini, 2,4%,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KITA di kantor Kementerian Keuangan, Selasa (5/5/2026).

Ekonomi Tumbuh 5,61% di Kuartal I-2026

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan 5,61% pada kuartal I-2026, sebuah capaian yang oleh Purbaya disebut sebagai fondasi untuk menuju target pertumbuhan 6%. Ia menekankan capaian ini bersifat bertahap dan konsisten, bukan lonjakan semu.

Purbaya juga memastikan perekonomian tidak akan mengalami overheating, istilah ekonomi untuk kondisi ketika pertumbuhan terlalu cepat memicu lonjakan harga secara tak terkendali. Kondisi semacam itu biasanya dipicu oleh melimpahnya likuiditas, ekspansi kredit perbankan yang tak terkontrol, atau kebijakan moneter yang terlalu longgar.

“Ini (2,4%) angka yang sempurna…kita pastikan inflasi akan terkendali terus. Jadi ekonomi kita tidak kepanasan, hiperinflasi masih jauh. Pengamat-pengamat itu mesti belajar,” tegasnya.

Pemerintah Ingin Mesin Swasta dan Negara Jalan Bersama

Purbaya mengungkapkan strategi pertumbuhan yang ia usung bertumpu pada dua mesin: pemerintah dan sektor swasta. Kredit perbankan, menurutnya, akan tumbuh pelan-pelan seiring terjaganya pasokan uang di sistem keuangan.

“Ini yang saya bilang dulu, saya ingin menjalankan mesin private (swasta) dan mesin pemerintah,” ujarnya.

Pemerintah dan bank sentral, kata Purbaya, akan terus berkoordinasi menjaga keseimbangan itu agar daya beli masyarakat tidak tergerus kenaikan harga.

Konteks: Kekhawatiran Global yang Membayangi

Ketidakpastian ekonomi global dalam beberapa bulan terakhir memang memantik berbagai proyeksi negatif terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan nilai tukar, gejolak harga komoditas, dan kebijakan suku bunga tinggi di negara-negara maju turut menjadi latar belakang munculnya kekhawatiran soal inflasi domestik.

Di tengah tekanan itu, angka inflasi 2,4% pada April 2026 menunjukkan bahwa ruang gerak pemerintah untuk mendorong pertumbuhan tanpa memicu kepanasan harga masih cukup terbuka. Purbaya memastikan pemerintah tidak akan lengah.

“Jadi ini hal yang bagus, pemerintah akan menjaga, kita pastikan terus terkendali terus jadi ekonomi kita ga kepanasan. Pengamat-pengamat itu harus belajar lagi,” katanya.

Publik kini menantikan apakah tren inflasi rendah dan pertumbuhan di atas 5% ini bisa dipertahankan hingga akhir 2026, khususnya di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Ratna Dewi