Berita

Dari 7 Juta Ton Batu Bara, PTBA Targetkan 1 Juta Ton Setara LPG Lewat Proyek DME Tanjung Enim

14
×

Dari 7 Juta Ton Batu Bara, PTBA Targetkan 1 Juta Ton Setara LPG Lewat Proyek DME Tanjung Enim

Sebarkan artikel ini

Teras News — Indonesia mengimpor jutaan ton LPG setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga. Kini, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) memulai proyek hilirisasi batu bara yang dirancang menghasilkan 1,4 juta ton Dimethyl Ether (DME) per tahun — setara sekitar 1 juta ton LPG — dengan bahan baku 7 juta ton batu bara.

Proyek itu resmi memasuki tahap baru setelah groundbreaking Hilirisasi Fase ke-2 digelar di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, menjelaskan langsung rasio konversi yang ditargetkan dalam proyek ini.

“Jadi yang kita desain sekarang, kapasitas 1,4 juta ton DME. Itu setara kira-kira kalorinya dengan 1 juta ton LPG. Menggunakan batubara berapa? 7 juta ton batubara per tahun. Jadi dari 7 juta batubara itu jadi 1,4 juta DME setara 1 juta LPG,” kata Turino, seperti dilaporkan CNBC Indonesia, Kamis (30/4/2026).

DME: Substitusi LPG dari Batu Bara

DME (Dimethyl Ether) adalah senyawa kimia berbentuk gas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti LPG untuk keperluan memasak. Secara fisik dan cara penggunaan, DME mirip dengan LPG, meski nilai kalorinya berbeda sehingga dibutuhkan volume DME lebih besar untuk menghasilkan energi setara.

Proyek ini digagas oleh BPI Danantara dan dijalankan oleh MIND ID bersama PTBA, Pertamina, serta Pertamina Patra Niaga. Turino menyebut koordinasi lintas BUMN tersebut berjalan dengan Danantara bertindak sebagai orkestrator yang menyinergikan seluruh pihak.

Mitra Asing dari Tiga Negara Dijajaki

Karena proyek ini merupakan yang pertama di Indonesia, PTBA membuka peluang kerja sama teknologi dengan mitra internasional. Perusahaan dari China, Jerman, dan Amerika Serikat sudah diundang untuk penjajakan awal.

Pemilihan mitra, menurut Turino, bukan soal formalitas. Ia menekankan bahwa hanya perusahaan yang benar-benar pernah membangun dan mengoperasikan pabrik DME yang akan dipertimbangkan.

“Nah, proyek pertama kali ini tentu banyak hal yang harus kita mitigasi. Sehingga kita kuncinya salah satunya harus cari partner yang benar-benar kompeten. Benar-benar dia pernah bangun pabrik DME dan sekarang masih jalan. Jadi itu strategi kita. Karena ini proyek pertama kali kuncinya di pemilihan mitra ini mesti tepat,” tegasnya.

Di sejumlah negara seperti China, industri DME sudah berkembang cukup lama. Indonesia baru memasuki tahap ini, sehingga transfer teknologi dari mitra yang berpengalaman dinilai krusial agar proyek tidak menghadapi hambatan teknis yang tidak perlu.

Keberhasilan proyek ini kelak akan menjadi penentu seberapa besar Indonesia bisa memangkas volume impor LPG yang selama ini membebani neraca perdagangan energi nasional.

Penulis: Bayu Saputra
Editor: Surya Dharma