Internasional

Wabah Demam Babi Klasik Kembali Melanda Jepang, 3.000 Ekor Babi di Shizuoka Akan Dimusnahkan

5
×

Wabah Demam Babi Klasik Kembali Melanda Jepang, 3.000 Ekor Babi di Shizuoka Akan Dimusnahkan

Sebarkan artikel ini

Teras News — Selasa (6/5), Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang mengumumkan wabah demam babi klasik baru di sebuah peternakan di Kota Fujinomiya, Prefektur Shizuoka, Jepang tengah. Ini adalah kasus keempat yang dikonfirmasi di negara tersebut sepanjang tahun 2026.

Semuanya bermula dari laporan kematian anak babi yang diterima otoritas setempat pada Senin (4/5). Tim petugas langsung turun ke lokasi untuk inspeksi. Hasil tes laboratorium kemudian memastikan babi-babi di peternakan itu terinfeksi demam babi klasik.

Hampir 3.000 Ekor Babi Akan Dibakar dan Dikubur

Kementerian Pertanian Jepang menetapkan pemusnahan massal sebagai respons utama. Hampir 3.000 ekor babi di peternakan tersebut akan dimusnahkan, dibakar, lalu dikubur. Prosedur ini merupakan standar penanganan wabah demam babi klasik untuk memutus rantai penyebaran penyakit.

Otoritas juga memperkuat sejumlah langkah pencegahan di sekitar lokasi, termasuk disinfeksi menyeluruh dan penguatan pagar untuk mencegah hewan liar masuk ke area peternakan. Hewan liar, khususnya babi hutan, diketahui menjadi salah satu vektor penyebaran demam babi klasik di berbagai negara.

Tim Epidemiologi Diluncurkan Lacak Sumber Infeksi

Sebuah tim investigasi epidemiologi dikerahkan khusus untuk melacak dari mana infeksi ini berasal. Pemerintah Jepang belum mengumumkan kesimpulan soal sumber wabah di Fujinomiya.

Demam babi klasik (Classical Swine Fever/CSF) adalah penyakit virus yang sangat menular pada babi dan babi hutan. Penyakit ini tidak menular ke manusia, namun dampaknya pada industri peternakan babi bisa sangat besar karena babi yang terinfeksi maupun babi di sekitarnya harus dimusnahkan seluruhnya untuk menghentikan penyebaran.

Jepang sempat dinyatakan bebas dari CSF selama lebih dari tiga dekade sebelum wabah kembali muncul beberapa tahun terakhir, memaksa pemerintah menerapkan program vaksinasi dan pengawasan ketat di sejumlah prefektur. Dengan empat kasus yang sudah tercatat hanya dalam beberapa bulan pertama 2026, pemerintah menghadapi tekanan untuk mempercepat penelusuran sumber penyebaran.

Penyelidikan tim epidemiologi di Fujinomiya menjadi kunci untuk menentukan apakah kasus-kasus ini saling berkaitan atau merupakan wabah yang berdiri sendiri di masing-masing wilayah.

Penulis: Surya Dharma
Editor: Ratna Dewi