Teras News — Stok 400 kilogram uranium milik Iran membuat kalangan militer Israel ketar-ketir. Jumlah itu, menurut perwira militer Israel, cukup untuk memproduksi 11 bom nuklir.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Seorang perwira militer Israel, seperti dilaporkan Sindonews, menyatakan bahwa kampanye militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang berlangsung selama 40 hari melawan Iran akan sia-sia jika stok uranium tersebut tidak berhasil dikeluarkan dari wilayah Iran.
Uranium 400 Kg: Ancaman Nuklir yang Belum Bisa Dinetralisir
Uranium yang dimaksud adalah uranium yang telah diperkaya pada tingkat tinggi, yang dalam dunia persenjataan dikenal sebagai bahan baku utama untuk membangun senjata nuklir. Dengan 400 kilogram stok yang masih berada di Iran, Israel menilai tujuan strategis dari serangan militer itu belum tercapai sepenuhnya.
Baca Juga:
Perwira militer Israel itu menegaskan bahwa selama uranium senilai itu masih ada di tangan Iran, ancaman proliferasi nuklir tetap nyata. Operasi militer yang panjang sekalipun tidak otomatis menghapus kemampuan Iran untuk membangun senjata pemusnah massal.
Konteks: Program Nuklir Iran dan Ketegangan Kawasan
Program nuklir Iran telah lama menjadi sumber ketegangan di Timur Tengah. Negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, serta Israel secara konsisten menuntut agar Iran membatasi pengayaan uraniumnya. Iran selama ini bersikukuh bahwa program nuklirnya semata untuk tujuan damai, meski klaim itu terus dibantah oleh badan pengawas nuklir internasional dan negara-negara Barat.
Keberadaan 400 kilogram uranium itu kini menempatkan isu denuklirisasi Iran sebagai titik sentral dari kalkulasi militer dan diplomatik di kawasan tersebut. Bagi Israel, negara yang tidak pernah mengakui maupun membantah kepemilikan senjata nuklirnya sendiri, kemampuan Iran mendekati ambang bom nuklir adalah ancaman eksistensial yang tidak bisa diabaikan.
Situasi ini menunjukkan bahwa meski tekanan militer telah dilancarkan, penyelesaian permanen atas program nuklir Iran tampaknya masih jauh dari kata tuntas.
Editor: Ratna Dewi