Berita

Yield 2,3% vs 6%, Indonesia Segera Terbitkan Panda Bond di China untuk Kurangi Ketergantungan Dolar AS

7
×

Yield 2,3% vs 6%, Indonesia Segera Terbitkan Panda Bond di China untuk Kurangi Ketergantungan Dolar AS

Sebarkan artikel ini

Teras News — Yield obligasi yang ditawarkan investor China hanya 2,3 persen, sementara surat berharga negara bertenor 10 tahun selama ini membebani pemerintah dengan yield sekitar 6 persen. Selisih hampir tiga kali lipat itulah yang mendorong Indonesia segera menerbitkan Panda Bond, surat utang berdenominasi yuan yang akan diterbitkan langsung di pasar modal China.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan rencana tersebut saat ditemui di Jakarta Pusat, Rabu (6/5/2026). Penerbitan Panda Bond ini merupakan kelanjutan dari strategi pemerintah mendiversifikasi sumber pembiayaan negara agar tidak lagi bergantung pada dolar Amerika Serikat.

“Kita tetap diversifikasi supaya nggak tergantung kepada pendirian dari Amerika atau negara-negara Barat aja dan yield-nya juga lebih rendah 2,3% sampai 2,5%,” kata Purbaya.

Terbit Bulan Depan, ICBC Siap Jadi Mitra

Purbaya menyebut pihaknya telah bertemu dengan perwakilan Industrial and Commercial Bank of China Ltd (ICBC), salah satu bank terbesar di dunia, untuk membahas teknis penerbitan. Persiapan sudah matang. Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, yang disebut Purbaya sebagai “Pak Minto”, bahkan sudah mengajak sang menteri berkunjung langsung ke China.

“(Bulan depan terbit) Mungkin Pak Minto sudah ngajak saya ke Cina. Kita sudah berhubungan dengan ICBC, mereka siap untuk menjalankan ke sana,” ujar Purbaya.

Panda Bond sendiri adalah instrumen surat utang yang diterbitkan oleh entitas asing di pasar obligasi domestik China dan menggunakan denominasi yuan. Berbeda dengan Eurobond atau Global Bond yang lazim diterbitkan di pasar internasional berbasis dolar, Panda Bond menyasar langsung likuiditas pasar keuangan China yang sangat besar.

Dim Sum Bond Oktober 2025 Raup Order 18 Miliar Yuan

Ini bukan kali pertama Indonesia melirik pasar keuangan China. Pada Oktober 2025, pemerintah lebih dulu menerbitkan Dim Sum Bond, yakni surat utang berdenominasi yuan yang diterbitkan di luar daratan China, tepatnya di Hong Kong. Hasilnya melampaui ekspektasi: total pesanan (orderbook) final mencapai 18 miliar yuan atau setara Rp 39,6 triliun, sebagian besar datang dari investor domestik China.

Keberhasilan Dim Sum Bond itu memperkuat keyakinan pemerintah bahwa selera investor China terhadap surat utang Indonesia memang besar. Panda Bond kali ini masuk lebih jauh, langsung ke jantung pasar modal di daratan China.

“Demand-nya pasar di sana besar dan siap. Ini kan yang kemarin Dimsum kan di Hong Kong, ini Panda di Cina. Jadi kita harus diversifikasi,” kata Purbaya.

Utang dari China Cetak Rekor, Yuan Ikut Menembus Level Baru

Tren ini berjalan seiring data utang luar negeri Indonesia. Pada Februari 2026, utang luar negeri Indonesia yang bersumber dari China mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Pada waktu yang sama, nilai utang berdenominasi yuan juga menembus level tertinggi baru, meski utang dari Amerika Serikat turut meningkat.

Bagi warga biasa, dampak dari strategi ini bisa terasa dalam jangka menengah. Biaya bunga yang lebih rendah berarti pemerintah berpotensi menghemat anggaran pembiayaan utang. Dana yang tidak terpakai untuk membayar bunga secara teoritis bisa dialokasikan ke belanja publik seperti infrastruktur, kesehatan, atau pendidikan, meski realisasinya bergantung pada kebijakan anggaran yang lebih luas.

Penerbitan Panda Bond dijadwalkan berlangsung bulan depan. Publik dan pelaku pasar kini menunggu kepastian nilai emisi serta respons investor China terhadap surat utang pemerintah Indonesia yang masuk langsung ke bursa yuan.

Penulis: Dian Permata
Editor: Surya Dharma