Teras News — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap oat milk sebagai pilihan yang lebih sehat dibandingkan susu sapi, terutama soal kandungan gula dan kalori yang kerap luput dari perhatian konsumen.
Peringatan itu disampaikan Budi merespons tren konsumsi oat milk yang terus meningkat di kalangan masyarakat urban Indonesia, di mana minuman berbahan dasar gandum ini semakin populer sebagai pengganti susu hewani.
Oat Milk Memang Nabati, Tapi Bukan Berarti Bebas Risiko
Oat milk (susu gandum) adalah minuman nabati yang dibuat dari campuran gandum dan air, lalu disaring hingga menghasilkan cairan putih menyerupai susu. Minuman ini populer di kalangan vegan, penderita intoleransi laktosa, dan mereka yang ingin mengurangi konsumsi produk hewani.
Baca Juga:
Masalahnya, proses pengolahan gandum menjadi cairan susu justru meningkatkan kadar gula alami di dalamnya. Banyak produk oat milk komersial yang beredar di pasaran juga menambahkan pemanis dan perisa untuk memperbaiki cita rasa, sehingga total gula dan kalorinya bisa lebih tinggi dari yang disangka konsumen.
Kandungan Nutrisi yang Perlu Dicermati Sebelum Beralih
Dibandingkan susu sapi, oat milk umumnya mengandung lebih sedikit protein dan lemak jenuh. Namun indeks glikemiknya relatif lebih tinggi, artinya minuman ini bisa memicu lonjakan gula darah lebih cepat, terutama bagi penderita diabetes atau mereka yang sedang mengontrol berat badan.
Kandungan kalsium pada oat milk juga sangat bergantung pada fortifikasi (penambahan kalsium secara buatan) oleh produsen. Tidak semua produk oat milk difortifikasi, sehingga konsumen perlu membaca label kemasan dengan teliti sebelum menjadikannya sumber kalsium harian.
Menkes Budi menyoroti bahwa persepsi publik tentang oat milk kerap terbentuk dari tren media sosial dan klaim pemasaran, bukan dari pemahaman nutrisi yang utuh.
Pesan untuk Konsumen: Baca Label, Jangan Ikut Tren Buta
Bagi warga yang sudah telanjur menjadikan oat milk sebagai konsumsi rutin, langkah paling praktis adalah membiasakan diri membaca label informasi gizi di setiap kemasan. Perhatikan kadar gula total, kalori per sajian, serta apakah produk tersebut sudah diperkaya kalsium dan vitamin D.
Pilihan antara oat milk dan susu sapi sejatinya bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing individu. Susu sapi tetap unggul dalam kandungan protein dan kalsium alami, sementara oat milk bisa menjadi alternatif bagi mereka yang tidak toleran terhadap laktosa, asalkan produk yang dipilih rendah gula tambahan.
Imbauan Menkes ini menegaskan bahwa popularitas sebuah produk di media sosial tidak otomatis berbanding lurus dengan manfaat kesehatannya. Konsumen disarankan berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum mengganti sumber nutrisi utama dalam pola makan sehari-hari.
Editor: Arif Budiman