Aksara Ulu Banyak Di Gunakan di Manuskrip Kuno

Terasnews - November 18, 2020
Aksara Ulu Banyak Di Gunakan di Manuskrip Kuno
 - (Terasnews)
Editor

Palembang, terasnews.id – Aksara ulu, yang banyak digunakan dalam manuskrip kuno zaman Kesultanan Palembang Darussalam, masyarakat sekarang harus dikenalkan dengan aksara ulu ini.

Untuk itu menurut Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang Dr Endang Rochmiatun, M Hum , pihaknya menggelar Workshop bertajuk ‘Penguatan Kearifan Lokal dan Alih Media Naskah Aksara Ulu Tahun 2020’ di Aula Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa, Selasa (17/11/2020).

Mereka yang ikut kegiatan ini menurutnya merupakan guru sejarah dari sejumlah SMA sederajat di Sumatera Selatan, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Kegiatan ini menurutnya merupakan program pengabdian kepada masyarakat dari Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang.

Acara ini terselenggara berkat kerja sama Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah, Museum Negeri Sumatera Selatan, dan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Sumsel. “Dengan diadakannya workshop ini, masyarakat bisa menggali isi dari manuskrip kuno tersebut,” katanya.

Dia menjelaskan masyarakat zaman dahulu menulis manuskrip tentang apa yang mereka kerjakan. Contohnya soal pengobatan. Artinya pengetahuan masyarakat di uluan terdokumentasi dalam manuskrip.

“Ada juga manuskrip koleksi museum Sumsel Balaputra Dewa yang berisi tentang profil Nabi Muhammad. Naskah kuno tersebut juga memakai aksara ulu. Dari sini diketahui proses masuknya Islam di Sumsel pada masa itu,” katanya.

Berdasarkan temuan dari peneliti, ia mengatakan, manuskrip beraksara ulu ditemukan di daerah Pagaralam, Lahat, Lubuklinggau, Musi Rawas, dan Muaradua.

“Kalau sekarang yang masih lestari hanya bahasa yang digunakan masyarakat uluan. Seperti Bahasa Pasemah dengan dialek masing-masing. Dengan adanya workshop ini, kita berupaya agar aksara ulu bisa lestari. Dengan begitu, anak-anak muda bisa membaca dan memahami isi manuskrip tersebut,” katanya. Sebelumnya, kegiatan workshop dibuka oleh Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Chandra Amprayadi.

Beberapa narasumber yang dihadirkan, yakni pustakawan partikelir Ahmad Subhan, Kaprodi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang Otoman, M.Hum, dan Nuzulur Romadhona, S.Hum, yang merupakan pegiat aksara ulu sekaligus alumni Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah.(udy)

 

Tinggalkan Komentar

PENGUNJUNG

  • 0
  • 1,795
  • 110
  • 7,498
  • 28,435
  • 45,502
  • 45,502
  • 4,553
  • 19


ARZIP