Pemuda Garda Depan Penjaga NKRI

YOGYAKARTA – terasnews.id – Bangsa Indonesia saat ini sedang kewalahan dalam menghadapi arus globalisaai, yang kian hari kian pesat.

Perkembangan teknologi informasi yang cepat sekali mengakibatkan perubahan yang begitu besar pada kehidupan umat manusia dengan segala peradaban dan kebudayaannya.

“Perubahan ini juga memberikan dampak yang begitu besar terhadap transformasi nilai-nilai yang ada di masyarakat,” kata M Afnan Hadikusumo, hari ini. “Khususnya masyarakat dengan budaya dan adat ketimuran seperti Indonesia.”

Bagi Afnan, perkembangan teknologi informasi mengakibatkan orang akan menjadi lebih jarang berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. “Sehingga kemampuan interpersonal dan emosionalnya tidak berkembang secara optimal,” tandas Afnan, yang menambahkan lama-kelamaan, seseorang akan sulit menjalin komunikasi dan membangun relasi dengan orang-orang di sekitarnya.

“Dan itulah yang saat ini menghinggapi generasi muda Indonesia,” tandas Afnan Hadikusumo.

Generasi muda Indonesia saat ini, seperti dikatakan Afnan, mudah sekali menelan informasi yang bersifat hoax sekalipun. “Akibatnya sangat rentan terjadinya konflik antarwarga masyarakat, dan ujung-ujungnya adalah terjadinya disintegrasi bangsa,” kata M. Afnan Hadikusumo.

Wakil Ketua Panitia Perancang Undang-Undang DPD RI, di sela-sela acara “Sosialisasi Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika” kerjasama antara MPR RI dengan DPP Ikatan Mahasiswa Alumni Madrasah Mu’allimin Mu’allimaat di aula Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, mengatakan, yang lebih memprihatinkan saat ini adalah ada kecenderungan para pemuda terbawa fobia berlebihan pada militerisme. “Sehingga melahirkan sikap anti pada segala atribut yang berbau militer,” terang Afnan.

Lebih lanjut Afnan mengatakan, antimiliterisme adalah sebuah kewajiban. “Tapi tidak berarti sama dengan anti pada segala atribut militer. Sebab, jika militer tidak ada, lalu siapa yang akan menjaga NKRI dari intervensi asing?” papar Afnan.

Menurut Afnan, paradoks ini melahirkan kecenderungan pemuda yang acuh tak acuh pada peran ketahanan NKRI. “Mereka sendiri yang selalu tegas meneriakkan antiasing, tanpa menawarkan opsi fungsi peran sendiri,” tandas Afnan, yang menambahkan, bukan tidak mungkin, sikap seperti ini menghilangkan rasa percaya diri lembaga ketahanan NKRI. “Karena merasa dimusuhi dari dalam, padahal mereka bertaruh nyawa untuk melindungi NKRI dari luar.”

Tidak adanya hubungan baik pemuda-militer ini, disampaikan Afnan, juga bisa menjadi alasan mengapa negara tetangga berani menginjak-injak kehormatan wilayah kedaulatan Indonesia.

Cucu pahlawan nasional, Ki Bagoes Hadikusumo, mengatakan, sesungguhnya pemuda memiliki potensi yang besar dalam menyelesaikan persoalan bangsa. “Terutama persoalan yang menyangkut keutuhan NKRI, meski tidak dipungkiri bahwa persoalan dalam diri pemuda juga banyak,” terang Afnan.

Afnan menjelaskan, yang terpenting adalah kesadaran pemuda untuk mampu mengubah dirinya dari objek pembangunan menjadi subjek pembangunan dan mampu tampil untuk memajukan bangsa ini.

“Namun itu dengan syarat, yakni bangga sebagai bangsa Indonesia, mampu menjaga persatuan dan kesatuan wilayah bangsa, setia menjaga kekayaan budaya dan keragaman suku bangsa dengan saling menghormati perbedaan, tetap menjaga kekayaan alam Indonesia sebagai warisan untuk digunakan generasi bangsa di masa mendatang, serta mau menghargai jasa-jasa pahlawan yang telah berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” pungkas Afnan. (Affan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 − 2 =