Menko Polhukam Buka Seminar IIDS 2018

      Jakarta, terasnews.id – Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto membuka seminar Indonesia International Defence Science (IIDS) ke-2 Tahun 2018 yang diselenggarakan oleh Universitas Pertahanan selama dua hari Rabu dan Kamis (12/7), di kawasan Kemayoran, Jakarta, Rabu.
Seminar IIDS mengangkat tema memperkuat diplomasi pertahanan untuk membicarakan tantangan dan ancaman keamanan bersama atau “Strengthening Defence Diplomacy to Address Common Security Challenges”. Tema ini diangkat untuk menjawab tantangan keamanan global dan dinamika lingkungan strategis pada tingkat regional maupun global.
Kehadiran Wiranto itu mewakili Presiden Joko Widodo yang berhalangan hadir untuk membuka seminar ini.
“Saya mewakili Presiden Jokowi yang sedianya akan hadir dalam pembukaan seminar IIDS, namun karena kesibukan beliau yang sangat padat, maka saya ditunjuk untuk membuka seminar ini,” kata Wiranto.
Ia berharap dengan seminar yang menghadirkan para pakar pertahanan dunia dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran yang positif bagi kebijakan-kebijakan strategis pertahanan.
Menurut dia, sejak bangsa Indonesia didirikan, Indonesia telah berkomitmen untuk ikut dalam perdamaian dunia, yang tercantum dalam UUD 1945.
“Tema yang diusung ini sangat relevan dengan amanat konstitusi karena diplomasi pertahanan merupakan salah satu cara menciptakan perdamaian,” katanya.
Menko Polhukam menegaskan perdamaian dunia harus diperjuangkan untuk diwujudkan. Oleh karena itu,  dibutuhkan komitmen yang tinggi, kerja keras yang berkelanjutan.
Rektor Universitas Pertahanan Letjen TNl Dr Yoedhi Swastanto menyampaikan bahwa IIDS merupakan seminar internasional yang diadakan dalam rangka mengatasi tantangan keamanan global ditinjau dari perspektif diplomasi pertahanan.
“Seminar IIDS juga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pertahanan,” katanya.
Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Unhan Laksamana Muda TNI Dr Amarulla Octavian sebagai Ketua IIDS menjelaskan, seminar ini bertujuan untuk menggali pemikiran-pemikiran baru dari para ilmuwan, dan di dalam pelaksanaannya mencermati tatanan global sebagai alternatif pengelolaan tatanan yang lebih adil guna menjamin keamanan dan kesejahteraan global.
Menurut dia, ada tiga sasaran seminar IIDS kali ini, yakni sukses akademik, sukses prestasi dan sukses penyelenggaraan, berfokus pada pencapaian pengakuan ilmu pertahanan sebagai disiplin ilmu setara dengan rumpun ilmu lainnya secara nasional dan internasional sekaligus diakuinya kemampuan Unhan dalam menyelenggarakan event internasional yang memiliki standar tinggi.
Terdapat 24 orang pembicara yang terdiri dari 14 pakar dari luar negeri, 3 dari organisasi internasional dan 7 dari Indonesia. Pembicara luar negeri berjumlah 2 orang dari Amerika Serikat, 2 dari Rusia, 2 dari Inggris, serta  masing-masing satu orang dari Australia, India, Jepang, Cina, Bulgaria,  Bangladesh, Filipina, Malaysia, IAEA, ASEAN, dan  IORA.
IIDS akan lebih menarik serta berkembang lebih besar lagi dengan pokok bahasan. Tema tersebut adalah global diplomacy on non proliferation of weapons of mass destruction (WMD), kejahatan transnasional yang terorganisasi, terorisme dan ancaman separatisme, pengembangan sumber daya berkelanjutan, penanganan bencana dari berbagai negara, dan perang media massa.
Salah satu subtema seminar internasional ini adalah tentang senjata pemusnah massal. Perwakilan militer Rusia, Kolonel Nikolay V Nikolayuk yang akan menjelaskan pengalaman negaranya menangani persoalan tersebut.
Octavian menambahkan, Universitas Pertahanan dari negara lain yang hadir adalah dari Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Selandia Baru, dari Thailand hadir sebagai universitas yang berafiliasi bidang pertahanan serta dari universitas seluruh Indonesia, sejumlah 24 universitas antara lain dari Ul, ITB, lPB, UGM dan lainnya
Total peserta seminar internasional ini diikuti oleh lebih dari 1.000 orang, terdiri atas perwakilan seluruh kedutaan dan konsulat negara lain serta organisasi internasional yang bermarkas di Jakarta.
Seminar juga dihadiri oleh Atase Pertahanan negara sahabat, seluruh kementerian dan lembaga yang terkait dengan aspek pertahanan, Mabes TNl, Mabes ketiga Angkatan dan Mabes Polri. Selain itu juga dihadiri oleh lembaga pendidikan TNl, Polri dan Pusdiklat dari beberapa kementerian, serta beberapa lembaga “think tank”.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 − 10 =