Lima Orang Meninggal Akibat Rabies Di NTB

Mataram, terasnews.id- Lima orang di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat dilaporkan meninggal dunia akibat terserang hewan penular rabies anjing liar.
“Sebelumnya korban ada empat orang, tapi sekarang bertambah jadi lima orang, setelah yang terbaru pada 4 Februari satu orang dilaporkan meninggal dunia,” ujar Kepala  Dinas Kesehatan NTB dr Nurhandini Eka Dewi di Mataram, Rabu.
Ia menjelaskan, rata-rata korban yang meninggal tersebut terlambat di bawa ke rumah sakit, karena faktor ketidaktahuan masyarakat, sebab setelah mendapat gigitan mereka hanya membersihkan lukanya dengan air tanpa ada perawatan lebih lanjut, sehingga terjadi infeksi.
“Infeksi rabies ini bisa sampai 2 minggu hingga 12 minggu. Kemudian virus ini menyerang susunan saraf otak sehingga penderita mengalami kematian,” katanya.
Nurhandini mengatakan, kasus gigitan anjing penular rabies ini pertamakali ditemukan di Kecamatan Kempo pada 2018, kemudian menyebar ke kecamatan lainnya di Kabupaten Dompu. Sementara, hingga saat ini tercatat sudah 527 kasus yang ditemukan, dengan rincian 273 kasus terjadi di 2018 dan tahun 2019 terhitung Januari hingga Pebruari sebanyak 254 kasus.
“Dari jumlah itu 10 orang dinyatakan tertular rabies dan lima orang meninggal dunia. Dengan kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Kempo, sebagai daerah pertama kali ditemukan kasus rabies” ucap Nurhandini.
Menurut dia, akibat kasus ini pemerintah daerah telah menetapkan kejadian luar biasa (KLB) rabies di Kabupaten Dompu. Karena itu, untuk mencegah kasus ini tidak meluas, pihaknya telah menyalurkan sebanyak 2.609 vial vaksin anti rabies, dengan jumlah yang sudah terpakai sebanyak 1.370 vial.
“Jadi setiap orang yang di gigit itu membutuhkan lima vaksin,” katanya.
Selain pemberian vaksin, pihaknya juga telah membuat surat edaran kewaspadaan rabies yang kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah kabupaten Dompu dengan membetuk tim pengendali rabies hingga desa-desa, terlebih kepada desa-desa yang beresiko rabies, termasuk, melakukan pelarangan keluar hewan yang berasal dari Kabupaten Dompu, ke Kabupaten Bima dan Sumbawa untuk mencegah penularan.
“Dinas Kesehatan Dompu bersama BBVet Denpasar juga sudah melakukan pengambilan sampel terhadap HPR desa-desa yang beresiko tinggi, terutama di enam kecamatan guna mencegah tertularnya rabies,” kata Nurhanisi Eka Dewi.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × three =