KPK Kembali Panggil Wakil Bupati Bengkulu Selatan

       Jakarta, terasnews.id – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali memanggil Wakil Bupati Bengkulu Selatan Gusnan Mulyadi dalam penyidikan tindak pidana korupsi suap proyek di Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun Anggaran 2018.
“Hari ini dijadwalkan pemeriksaan terhadap Gusnan Mulyadi, Wakil Bupati Bengkulu Selatan sebagai saksi untuk tersangka Dirwan Mahmud,” kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.
KPK telah menetapkan empat tersangka dalam kasus itu, yakni Bupati Bengkulu Selatan Dirwan Mahmud, Hendrati istri dari Dirwan Mahmud, Kasie pada Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkulu Selatan Nursilawati yang juga keponakan dari Dirwan dan Juhari dari unsur swasta atau kontraktor.
Sebelumnya, KPK telah memeriksa Gusnan pada Rabu (30/5) lalu juga untuk tersangka Dirwan Mahmud. Saat dikonfirmasi awak media usai menjalani pemeriksaan, Gusnan mengaku kenal dengan tersangka pemberi suap, yaitu Juhari.
Namun dia tidak mengetahui apakah Juhari merupakan seorang kontraktor yang telah lama menjadi mitra pengerjaan proyek di Bengkulu Selatan.
“Kalau itu saya tidak tahu persis, yang saya tahu dia orang swasta,” kata Gusnan.
Gusnan pun mengaku bahwa Johari merupakan salah satu anggota tim sukses dirinya bersama dengan Dirwan Mahmud yang saat ini menjabat Bupati Bengkulu Selatan.

       Diduga sebagai penerima dalam kasus suap itu, yakni Dirwan, Hendrati dan Nursilawati. Sedangkan diduga sebagai pemberi, yakni Juhari.
Diduga penerimaan total Rp98 juta merupakan bagian dari 15 persen komitmen “fee” yang disepakati sebagai “setoran” kepada Bupati atas lima proyek penunjukan langsung pekerjaan infrastruktur jalan dan jembatan yang dijanjikan di Pemkab Bengkulu senilai total Rp750 juta dari komitmen “fee” sebesar Rp112,5 juta.
Uang tersebut diberikan Juhari yang telah menjadi mitra dan mengerjakan proyek sejak 2017 di lingkungan Pemkab Bengkulu Selatan.
Pada 12 Mei 2018 sebesar Rp23 juta diberikan secara tunai dari Nursilawati kepada Hendrati. Kemudian oleh Hendrati sebesar Rp13 juta dimasukkan ke rekeningnya di Bank BNI dan sisanya Rp10 juta disimpan tunai oleh Nursilawati.
Selanjutnya, pada 15 Mei 2018 sebesar Rp75 juta diberikan Juhari secara tunai kepada Hendrati melalui Nursilawati di rumah Hendrati.
Sebagai pihak yang diduga pemberi, Juhari disangkakan melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat-1 ke-1 KUHP.
Sedangkan sebagai pihak yang diduga penerima Dirwan Mahmud, Hendrati dan Nursilawati disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − 14 =