Gapkindo: Pemerintah harus mengajak negara lain kurangi pasokan

Palembang terasnews.id – Pemerintah Indonesia harus lebih aktif mengajak negara-negara eksportir karet untuk mengurangi pasokan di pasar internasional karena sudah tiga tahun terakhir harga tetap bertahan di kisaran rendah.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia Provinsi Sumatera Selatan Alex K Eddy di Palembang, Kamis, mengatakan hal itu merupakan satu-satunya jalan untuk jangka pendek karena saat ini pasokan di pasaran dunia benar-benar ‘banjir’.

“Harus ada yang mau menjadi leader, dan Indonesia bisa mengambil alih ini, yakni bagaimana caranya agar negara seperti Malaysia dan Thailand dan negara pemain baru untuk duduk bersama mengatasi masalah ini,” kata Alex.

Menurutnya dalam kaitan penurunan harga komoditas ekspor ini sejatinya Indonesia yang paling bermasalah karena hampir 90 persen merupakan petani rakyat.

Selain itu, rasio produksi getah per hektare sangat rendah dibandingkan Malaysia, Thailand dan Vietnam. Di Indonesia dalam satu hektare hanya memperoleh 1 ton getah, sedangkan di Vietnam dan Thailand sudah tembus 2 ton.

“Tentunya ketika harga jatuh seperti saat ini, yakni 1,4 dolar per kilogram membuat menjadi tidak masalah bagi Thailand dan Vietnam. Sementara bagi petani Indonesia menjadi sangat berat, karena hanya mendapatkan sekitar Rp700.000 per bulan,” ujar dia.

Tiga negara produsen karet yan tergabung dalam International Tripartite Rubber Council (ITRC), yakni Indonesia, Malaysia, dan Thailand, telah sepakat untuk mengurangi suplai ke pasar ekspor dalam Kesepakatan Skema Tonase Ekspor (AETS).

Namun, langkah ini dianggap kurang efektif jika negara baru penghasil karet (Laos, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja) yang bukan anggota ITRC tidak berkomitmen serupa.

Sementara itu, target produksi karet Provinsi Sumatera Selatan sebanyak 1,3 juta ton pada 2018 dipastikan meleset pada tahun ini karena per November hanya tercapai 1 juta ton.

Target ini tidak tercapai tak lain dampak dari pelemahan harga di tingkat petani sehingga banyak lahan yang didiamkan begitu saja.

“Pada 2016 malah lebih jatuh lagi, karena produksi tidak tembus 1 juta ton atau hanya sekitar 900 ribu ton. Semula kami berharap banyak di tahun ini, karena di awal tahun ada perbaikan harga, tapi ternyata harga tetap belum terangkat,” kata dia.

Saat ini harga karet di perdagangan internasional hanya sekitar 1,4 dolar per kilogram, atau masih jauh dari harapan menyentuh 2 dolar per kg. Lebih buruk lagi, harga di tingkat petani hanya berkisar Rp5.000 – Rp7.000 per kilogram.

Salah Anwar, petani karet Mesuji Raya, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumsel, mengatakan bahwa harga getah karet bongkahan anjlok sejak awal tahun dari Rp7.000,00 menjadi hanya Rp6.800,00 (kering 100 persen) dan Rp5.600,00 (masih basah dengan masa pengeringan dua hari atau kering 75 persen).

“Saat ini sulit, lahan banyak dibiarkan petani karena harga jatuh. Jika dihitung pendapatan per bulan, berkisar Rp700 ribu, tentunya ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” kata dia.(anjas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − two =